Sifat Teregsa-gesa Manusia (Tafsir Tematik Atas PRoblem Individu)

 

NAMA            : NURMAYYADAH

NIM                : 11190340000037

TAFSIR TEMATIK ATAS PROBLEM INDIVIDU

SIFAT TERGESA-GESA MANUSIA

Islam merupakan agama rahmatan lil alamin yang mengatur, merespon seluruh dinamika kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang ada pada al-Qur’an dan hadis yang senantiasa selaras dan menjawab problem-problem manusia seiring dengan berkembangnya zaman atau dengan kata lain saalihun likulli zaman wa makan.

Al-Qur’an merupakan aset monumental umat Islam itu sendiri. Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang pastinya isinya senantiasa up to date. Sehingga dapat dipastikan bahwa al-Qur’an dapat menjawab, merespon semua aspek kehidupan manusia yang sudah termasuk di dalamnya problem sosial.

Al-Qur’am memiliki kekuatan perubahan positif menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan yang pastinya sebagai petunjuk jalan yang di ridhai Allah. Membacanya harus juga dengan kemampuan intelektual dan daya kritis yang memadai karna hal itu sangat penting karena al-Qur’an harus terjaga kemurniannya agar senantiasa memberikan sinar terang bagi kehidupan sosial manusia. Karna pembacaan al-Qur’an juga harus berawal dari yang namanya problematika sosial, jadi metodologi atau dengan adanya tafsir ijtimai sebagai sesuatu yang menghidupkan entitas agama sebagai jalan dalam melakukan transformasi sosial. Dengan adanya tafsir ijtima’i, membantu memahami persoalan yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat untuk mencari berbagai solusi dari perspektif al-Qur’an.

Ada berbagai macam problem sosial khususnya dengan individu salah satunya sifat tergesa-gesa. Tergesa-gesa merupakan salah satu sifat buruk manusia yang disebutkan dalam al-Qur’an yang merupakan sifat tersebut datangnya dari setan. Tapi, ada juga sifat tergesa-gesa yang bernilai positif yang juga perlu dilakukan.

Ada beberapa dalil dalam al-Qur’an membahas terkait sifat tergesa-gesa. Diantaranya:

Q.S an-Nahl ayat 1:

أَتَىٰٓ أَمْرُ ٱللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Telah pasti datangnya ketetpan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha tinggi dari apa yang mereka persukutukan”

Jika kita melihat dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, ayat ini merupakan pringatan bagi orang kafir yang senantiasa meminta agar azabnya itu segera datang yang dengan maksud untuk menantang Allah. Jadi, ayat ini turun sebagai penegasan bahwa Allah akan menurunkan azab tersebut dan hal itu pasti terjadi. Dengan melihat juga di dalam tafsir jalalain, bahwa keterangan fi’il madhi yang ada dalam ayat tersebut merupakan janji Allah yang pasti akan terjadi, dan tentunya waktunya tidak ada yang bisa mengubahnya, baik itu dimajukan atau dimundurkan.

Ayat tersebut memang sewaktu turunnya ditujukan kepada kaum musyrik, tetapi untuk melihat konteks sekarang, ayat itu juga merupakan peringatan bagi kita sekarang ini agar menghindari yang namanya sikap ketergesa-gesaan, terutama segala sesuatu yang sudah digariskan baik itu jodo, rejeki, kematian dan lain-lain. Hal itu merupakan sikap husnudzan kita kepada Allah. Percaya bahwa segala yang ditetapkan Allah, yang ditakdirkan kepadaku terjadi di waktu yang tepat. Tugas kita hanya berikhtiar dan yang mengendalikan pemberiannya pastinya Allah SWT.

Sifat tergesa-gesa merupakan sifat atau bentuk dimana tidak tentramnya hati manusia. Fikiran tidak tenang dan jauh dari yang namanya bersyukur dan hati-hati.banyak sekali orang dalam memutuskan sesuatu atau mengawali tindakan mereka itu dengan sikap tergesa-gesa yang ujung-ujungnya menyesal nantinya karna menemukan kecacatan di hasil akhirnya. Memang ada beberapa yang mendapatkan hasilnya tetapi beberapa juga adanya perasaan ketidakpuasaan di belakangnya.

Selain surah an-Nahl, dalam Q.S. al-Baqarah ayat 214 juga dibahas tentang sifat tergesa-gesa itu sendiri. Allah SWT berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai macam cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: “Kapankah datang pertolongan Allah?” ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Adapun asbab an-Nuzul ayat tersebut yaitu pertama, pendapat dari Qatadah, as-Suddi dan mufassir lainnya mengatakan bahwa ayat ini turun pada waktu perang khandaq dimana ketika kaum muslimin mengalami berbagai macam kesulitan dan tekanan perasaan sehingga merasa yang namanya ketakutan.

Kedua, bahwa ayat ini turun wakti perang uhud ketika kaum muslimin dipukul mundur oleh musuh. Dimana Sayyidina Hamzah tewas dan Nabi pun menderita luka.

Ketiga, bahwa ayat ini turun untuk menghibur hati kaum Muhajirin ketika meninggalkan kampung halamannya dan harta kekayaannya yang dikuasai oleh kaum musyrikin, dan kaum Yahudi pun kemudian memperlihatkan permusuhan kepada Rasulullah SAW secara terang-terangan dan kesulitan lainnya yang dialaminya di Madinah.

Ayat ini sebenarnya masih sama dengan ayat sebelumnya yang mana membahas tabiat manusia yang tergesa-gesa. Allah SWT secara tidak langsung memberikan penguatan dari ayat-ayat sebelumnya agar senantiasa selalu sabar dalam menghadapi perjuangan.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِين

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”

Dan firman-Nya dalam Q.S. al-Ankabut ayat 2:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hana dengan mengatakan “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?”

Melihat dari ayat di atas bahwa semakin tinggi sesuatu yang ingin dicapai makan makin berat pula cobaan dan rintangan yang dilewati. Untuk mencapai ridhanya Allah atau surganya Allah merupakan bukan suatu yang mudah, gampang dan sepele begitu saja. Tetapi, butuh perjuangan yang gigih yang penuh rintangan dan cobaan. Sebagaimana orang-orang terdahulu yang mana mereka ditimpa berbagai macam cobaan, kesengsaraan, malapetaka, nabinya dibunuh, pengikutnya disiksa sampai di antara mereka ada yang di gergaji di kepalanya dalam keadaan hidup. Sekalipun cobaan yang mereka alami itu berat dan lama dan tetap yakin akan pertolongan Allah yang akan datang, Rasul dan pengikut-pengikutnya pun  juga merasa gelisah, kemudian berkata, “Kapan datang pertolongan Allah?”, hal itu dijawab Allah, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat.” Dan nantinya mereka juga menang dan mengalahkan musuh, penganiaya dan orang-orang zalim.

Selanjutnya, dalam Q.S. al-Anbiya ayat 37 Allah SWT berfirman:

خُلِقَ الْإنْسانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُورِيْكُمْ ءايتى فَلاَ تَسْتَعْجِلُوْنِ

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihaatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.”

Pada ayat ini juga dijelaskan bahwa tabiat manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang suka tergesa-gesa dan terburu nafsu. Kemudian berhubung dengan ayat ini, Allah SWT memperingatkan kepada kaum kafir agar mereka jangan selalu meminta disegerakannya azab karena sudah pasti Allah akan menurunkan azab kepada mereka di waktu yang tepat. Dapat diketahui juga bahwa dalam ayat ini Allah melarang manusia bersifat tergesa-gesa, meminta segera didatangkannya sesuatu yang belum tiba waktunya datang.

Tetapi, di samping Allah menciptakan sifat tergesa-gesa kepada manusia, kita juga diberi kemampuan untuk senantiasa menahan diri dari nafsu dan mengatasi sifat tergesa-gesa itu dengan cara membiasakan diri dengan senantiasa bersifat tenang, sabar serta selalu mawas diri.

Akibat dari sifat tergesa-gesa dan terburu-buru itu pastinya menimbulkan akibat yang tidak baik serta merugikan baik diri sendiri maupun orang lain, yang pada akhirnya menimbulkan rasa penyesalan yang berkesudahan. Sebaliknya, jika kita tetap tenang, sabar, hati-hati nantinya juga akan menyampaikan seseorang kepada yang ingin ditujunya dan Insya Allah mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Tak heran jika Allah menjanjikan dan memuji orang yang senantiasa bersifat sabar bahwa Allah senantiasa memberikan perlindungan, pertolongan dan petunjuk kepada mereka yang senantiasa bersifat sabar. Sebaliknya, jika mereka orangnya suka terburu-buru, tergesa-gesa, lekas marah maka dengan mudah juga mudah terperdaya dengan godaan setan yang akan menjerumuskannya ke jurang kebinasaan dan akan mendapat kerugian.

Permintaan orang-orang kafir agar azab Allah segera diturunkan sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidak percaya terhadap azab tersebut. Serta ingkar bahwa Allah berkuasa menimpakan azab kepada orang-orang yang zalim.

 

Terdapat juga dalam Q.S. Asy-Syuara’ ayat 204:

أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ

“Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami dipercepat?”
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Mekah pernah mengejek Nabi Muhammad dengan menanyakan kapan azab itu turun sebagaimana yang dijanjikan kepada mereka bahwa azab itu akan turun kepadanya.  Pertanyaan mereka itu pun dijawab oleh Allah SWT melalui ayat ini.

Sebenarnya mereka tidak perlu menanyakan kapan azab tersebut datang kepada mereka. Mereka cukup memerhatikan musibah atau malapetaka yang telah menimpa orang-orang terdahulu yang telah mendustakan para rasul-Nya. Padahal, umat-umat dahulu merupakan umat yang gagah perkasa dan mempunyai kemampuan untuk memakmurkan negaranya, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang sanggup mengelakkan dirinya dari azab Allah.

Juga dalam Q.S. al-Isra ayat 11, Allah SWt berfirman:

وَيَدْعُ ٱلْإِنسَٰنُ بِٱلشَّرِّ دُعَآءَهُۥ بِٱلْخَيْرِ ۖ وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ عَجُولًا

“Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-tergesa.”

Dalam ayat ini Allah SWT menceritakan sifat manusia yaitu tergesa-gesa atau terburu-buru dan doanya yang dilakukannya dalam keadaan tertentu baik itu untuk keburukan dirinya, harta bendanya, bahkan anaknya sekalipun. Yang dimaksud keburukan di sini adalah ingin mati, kebinasaan, kehancuran, dan yang berdampak buruk baginya. Seandainya Allah mengabulkan doa buruk mereka, maka sungguh binasa dan pastinya menyesallah mereka atas perbuatan mereka. Ata ini pun semaknya dengan Q.S. Yunus ayat 11:

وَلَوْ يُعَجِّلُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ ٱلشَّرَّ ٱسْتِعْجَالَهُم بِٱلْخَيْرِ لَقُضِىَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ

“Dan sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.”

Karna seringkali kita ketika mengalami sesuatu yang sudah berada dititik marah, jengkel dan lain-lainnya, kadang di mulut kita itu terucap sesuatu yang dinginkan yang ternyata berujung penyesalan juga. Sehingga mengambil sikap tenang, sabar itu sangat diperlukan. Tidak mungkin Allah menciptakan sifat tergesa-gesa itu jika tidak ada penawarnya. Nah, penawarnya itu adalah sifat tenang, mawas diri, dan hati-hati itu.

Semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah SWT dalam setiap mengambil keputusan dan dijauhkan dari sikap terburu-buru yang berujung penyesalan yang berkesudahan.

Referensi

https://tafsiralquran.id/jangan-tergesa-gesa-ini-dalil-larangannya-dalam-al-quran/

Tafsir kemenag dan tafsir ibnu katsir

Komentar